Tinggalkan komentar

Pergeseran Iklim dan Musim di Indonesia


Yuni Ari Wibowo

Mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Dalam tugas mata kuliah Oseanografi


 

Pada beberapa tahun terakhir telah terjadi pergeseran iklim atau musim dari periode perubahan musim yang biasanya (sirkulasi monsun). Fenomena ini terjadi hampir di sebagian belahan dunia, termasuk juga belahan bumi Indonesia.

Wilayah Indonesia yang terletak secara astronomis pada lintang 11o15’ LS – 6o08’ LU dan dilalui oleh garis Khatulistiwa merupakan daerah yang mempunyai iklim tropis. Serta letak geografisnya  diapit diantara dua benua, Benua Asia dan Australia, terbentang di antara Samudera Hindia dan Pasifik. Terdiri dari pulau dan kepulauan yang terbentang dari barat ke timur. Semua ini menjadikan wilayah Indonesia unik dan beragam terhadap perubahan iklim atau cuaca.

Kondisi iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penunjang. Yakni dipengaruhi oleh fenomena El – Nino dan La – Nina yang bersumber dari wilayah timur Indonesia, tepatnya berasal dari Ekuator Pasifik Tengah. El- Nino merupakan fenomena global dari interaksi antara lautan dan atmosfer, ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Ekuator Pasifik Tengah, atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari temperatur rata – rata). Sedangkan La – Nina merupakan kebalikan dari El – Nino ditandai dengan anomali suhu muka air laut negatif (lebih dingin dari temperatur rata – rata) di Ekuator Pasifik Tengah.

Faktor kedua yang mempengaruhi kondisi iklim di Indonesia adalah dipole mode yang bersumber dari wilayah barat Indonesia (terletak pada Samudra Hindia sebelah barat pulau Sumatera hingga timur Afrika).

Faktor ketiga adalah pengaruh fenomena regional, seperti sirkulasi Monsun Asia – Australia dan daerah pertemuan angin antar tropis yang merupakan daerah pertumbuhan awan serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

Selain itu, kondisi topografi wilayah Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pegunungan, lembah dan pantai juga menyebabkan semakin beragamnya iklim, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu. Berdasarkan hasil analisis data 30 tahun terakhir (1981 – 2010) oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), menyebutkan bahwa secara klimatologis wilayah Indonesia memiliki 407 pola hujan. Dari 407 pola hujan, 342 diantaranya merupakan Zona Musim (ZOM) dan 65 lainnya merupakan Zona Non Musim (Non Zom). Daerah ZOM merupakan daerah yang perbedaan periode musimnya (musim hujan dan kemarau) terlihat jelas. Sedangkan daerah Non Zom pada umumnya tidak memiiki perbedaan yang jelas antara periode musimnya, atau dapat dikatakan daerah yang sepanjang tahun memiliki curah hujan tinggi atau rendah.

Dari 342 daerah Zona Musim tersebut, sebanyak 9 daerah ZOM memiliki pola hujan kebalikan dari daerah zona musim pada umumnya (berdasarkan pola monsun). Jadi jika berdasarkan pola monsun daerah ZOM mengalami musim hujan, maka  kesembilan daerah tersebut mengalami musim kemarau, demikian sebaliknya.

Fenomena yang mempengaruhi iklim atau musim di Indonesia

Fenomena – fenomena yang mempengaruhi iklim atau cuaca di wilayah Indonesia terdiri dari fenomena El – Nino dan La – Nina, Dipole Mode, sirkulasi monsun Asia – Australia, daerah pertemuan angin antar tropis dan suhu permukaan air laut di wilayah perairan Indonesia.

            Fenomena El – Nino dan La – Nina sangat dipengaruhi oleh suhu perairan Indonesia. El – Nino yang berpengaruh di wilayah Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, baru akan terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun apabila kondisi suhu perairan Indonesia hangat maka fenomena El – Nino tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap berkurangnya curah hujan. Serta tidak semua wilayah Indonesia dipengaruhi oleh El – Nino, mengingat luanya wilayah Indonesia.

Sedangkan La – Nina merupakan kebalikan dari El – Nino. Fenomena La – Nina secara garis besar menyebabkan curah hujan di indonesia meningkat jika diikuti dengan menghangatnya suhu muka air laut di perairan Indonesia. Demikian halnya dengan El – Nino, La –Nina juga tidak berpengaruh di seluruh wilayah indonesia.

Fenomena Dipole Mode merupakan interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung berdasarkan selisih antara anomali suhu muka laut perairan perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat pulau Sumatera. Selisih anomali suhu muka tersebut dikenal sebagai Dipole Mode Indeks (DMI). Fenomena Dipole Mode secara umum mempengaruhi jumlah curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Untuk DMI yang bernilai positif, umumnya berdampak pada kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat. Sedangkan DMI yang bernilai negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

Fenomena sirkulasi Monsun Asia – Australia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam jangka waktu satu tahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia, umumnya adalah pola monsun.  Yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin ini dikenal sebagai angin muson barat dan angin muson timur.

Pola angin muson barat terjadi ketika pusat tekanan udara tinggi berkembang di atas benua Asia dan pusat tekanan udara rendah terjadi di atas benua Australia, sehingga angin berhembus dari barat laut menuju tenggara. Pola angin ini dikenal sebagai angin muson barat laut. Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober – April ketika matahari berada di belahan bumi selatan. Fenomena ini menyebabkan belahan bumi bagian selatan (khususnya Australia) lebih banyak memperoleh intensitas matahari daripada benua Asia. Akibatnya temperatur udara di benua Australia  meningkat dan tekanan udara rendah. Sebaliknya di Asia, temperatur udaranya menurun dan tekanan udara tinggi. Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke Australia sebagai muson barat. Pola angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan, maka muson barat ini banyak membawa uap air dan turun sebagai hujan di Indonesia. Fenomena ini dikenal sebagai musim penghujan.

Sedangkan ketika musim timur, pusat tekanan udara di atas benua Asia rendah dan pusat tekanan udara di atas Australia tinggi. Hal ini menyebabkan angin berhembus dari tenggara menuju barat laut. Angin muson timur pada umumnya berhembus setiap bulan April – Oktober. Yaitu terjadi ketika matahari mulai bergeser ke belahan bumi utara. Di belahan bumi utara (khusunya benua Asia), temperatur udaranya  dan tekanan udara rendah. Sebaliknya di benua Australia (yang telah ditinggalkan matahari), temperatur udaranya rendah dan tekanan udara tinggi. Maka terjadi pergerakan angin dari benua Australia ke Asia melalui Indonesia sebagai angin muson timur. Angin ini membawa uap air yang sedikit (curah hujan rendah), karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan bagian selatan Irian Jaya, serta Kepulauan Nusa Tenggara. Oleh sebab itu, di Indonesia peristiwa ini dikenal sebagai musim kemarau.

Fenomena daerah pertemuan angin antar tropis terjadi ketika peralihan periode muson barat menuju muson timur atau lebih dikenal sebagai musim pancaroba awal tahun. Musim ini umumnya terjadi pada bulan Maret – Mei. Dan peralihan dari muson timur ke muson barat (atau yang dikenal sebagai pancaroba akhir tahun) biasanya terjadi pada bulan September – November. Pada musim peralihan ini matahari bergerak melintasi garis khatulistiwa, sehingga angin menjadi lemah dan arahnya tidak menentu. Daerah pertemuan angin antar tropis merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi yang selalu berubah mengikuti pergerakan posisi matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Sehingga pada wilayah Indonesia yang diliwati daerah ini, pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan hujan.

Dan yang terakhir, fenomena kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia berpengaruh terhadab jumlah kandungan uap air di atmosfer. Hal ini berkaitan langsung dengan proses pembuatan awan. Jika suhu muka air laut tinggi, maka berpotensi cukup banyaknya uap air yang terkumpul di atmosfer. Demikian juga sebaliknya, jika suhu muka air laut dingin, maka kandungan uap air yang terkumpul di awan sedikit.

Iklim dan musim Indonesia yang semakin bergeser

Perubahan iklim merupakan perubahan pola dan intensitas unsur iklim pada periode waktu yang dapat dibandingkan (di Indonesia umumnya terhadap rata-rata 30 tahun). Perubahan iklim dapat berupa perubahan dalam kondisi cuaca rata-rata atau perubahan dalam distribusi kejadian cuaca terhadap kondisi rata-ratanya. Sebagai contoh, lebih sering atau berkurangnya kejadian cuaca ekstrim, berubahnya pola musim dan peningkatan luasan daerah rawan kekeringan.

Perubahan iklim dapat menyebabkan adanya pergeseran musim. Di Indonesia, musim mengalami pergeseran pada awal musim dan panjang musim. Pergeseran tersebut terjadi dimusim kemarau dan musim hujan, baik maju maupun mundur.

Fenomena yang terjadi akhir – akhir ini adalah “tidak teratur”nya iklim dan musim di Indonesia. Keti dakteraturan ini diakibatkan oleh pergeseran iklim atau musim dari pola pada umunya (pola monsun). Hal ini berdampak bagi petani dan nelayan, karena baik petani maupun nelayan, menggantungkan mata pencaharian mereka pada iklim dan musim.

Pergeseran iklim dan cuaca ini sangat erat kaitannya dengan meningkatnya temperatur iklim di Indonesia. Iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3 ˚C sejak tahun 1900. Fenomena El – Nino juga mempengaruhi iklim dan musim di beberapa bagian Indonesia. Fenomena ini menyebabkan berkurangnya curah hujan yang drastis sekitar 2 hingga 3 persen pada abad ini. Akibatnya terjadi kekeringan di beberapa daerah.

Pergeseran iklim dan musim di Indonesia juga menjadikan periode musim menjadi lebih panjang atau pendek. Contohnya periode musim kemarau yang terjadi pada tahun 2011 lebih dominan (panjang) daripada musim penghujan.

Fenomena ini menurut beberapa ahli diakibatkan oleh efek pemanasan global. Bumi secara alamiah dapat menjaga suhu bumi relatif hangat dengan sistem efek rumah kaca (green house effect), namun dengan adanya aktivitas penduduk yang tidak terlepas dari kegiatan industri maka akan “mempercepat” hangatnya suhu bumi. Hal ini dikarenakan perubahan iklim global diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer bumi sebagai efek rumah kaca, kegiatan industri, pemanfaatan sumberdaya minyak bumi dan batubara, serta kebakaran hutan sebagai penyumbang emisi gas CO2 terbesar di dunia yang mengakibatkan perubahan pada lingkungan dan tataguna lahan.

Pemanasan global berdampak pada perubahan iklim di dunia menjadi tidak stabil. Apabila pemananasan global terus bertambah setiap tahunnya, dapat menimbulkan dampak yang besar terhadap ancaman bencana global, seperti badai siklon tropis, air pasang dan banjir, kenaikan temperatur ekstrim, tsunami dan kekeringan yang diakibatkan oleh aktivitas El – Nino.

Reboisasi dan pelestarian hutan untuk menjaga pola perubahan iklim serta musim

            Dengan melihat penyebab pergeseran iklim dan musim terjadi karena pemanasan global. Atau secara rinci dapat dijelaskan bahwa pohon hijau (hutan) tidak mampu mengikat kelebihan CO2. Hal ini mengakibatkan kelebihan CO2  menghalangi cahaya matahari yang dipantulkan ke luar bumi. Karena terhalangi oleh lapisan CO2, cahaya matahari dipantulkan kembali ke bumi, sehingga suhu bumi meningkat (Efek Rumah Kaca).

Untuk itu, diperlukan pelestarian terhadap pohon hijau dan melakukan reboisasi (penanaman calon pohon baru) secara berdampingan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah kandungan CO2 yang terdapat di atmosfer.

Semua itu dilakukan untuk menjaga perubahan iklim dan musim pada keseimbangan alam (stabil). Dengan hal ini diharapkan dapat menekan pergeseran iklim dan musim baik maju maupun mundur, yang mengakibatkan terjadinya perubahanan sirkulasi yang drastis di wilayah Indonesia.

Referensi :

  1. Prakiraan Musim Hujan 2011/2012 di Indonesia oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Klimatologi/PrakiraanMusim.bmkg
  2. Perubahan Iklim: Pemanasan Global dan Efek Rumah Kaca http://www.sumatra-rainforest.org/index.php/en/component/content/article/35-article/58-perubahan-iklim-pemanasan-global-dan-efek-rumah-kaca
  3. El Nino dan La Nina serta dampaknya di Indonesia http://mbojo.wordpress.com/2010/03/18/2010/03/18/el-nino-dan-la-nina-serta-dampaknya-di-indonesia/
  4. Dipole Mode

http://pustakacuaca.blogspot.com/2010/09/dipole-mode.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: