Tinggalkan komentar

Saksikan Aku Seorang Muslim


         Seiring bebasnya budaya asing yang menerobos masuk hingga ke palung samudra kehidupan muslim tanah air, semakin besar jumlah muslim yang kehilangan jati dirinya. Budaya asing yang tak lain diboncengi oleh konsep – konsep jahiliyah berbungkus “jubah” gaya hidup modern, secara perlahan melunturkan nilai-nilai kebanggaan muslim akan pegangan hidupnya, Islam.  

Atas nama globalisasi tidak sedikit muslim menjadi sasaran empuk kaum yang memusuhi Islam. Budaya asing yang ditumpangi konsep-konsep jahiliyah masuk dengan mudahnya, menyelinap hingga menjalar ke dalam denyut nadi penduduk muslim. Jika suatu negara menolak akan kehadiran globalisasi, tak pelak negara tersebut akan dikucilkan oleh negara-negara lain dalam hal persahabatan maupun kerjasama internasional. Sehingga mau tidak mau negara harus menerima arus globalisasi ini. Akibatnya pun dapat ditebak, sebagian penduduk muslim tanah air mulai meninggalkan apa yang telah menjadi pegangan hidupnya, kecintaan serta kebanggaan akan Islam pun mulai menyurut seiring dengan menurunnya perjuangan menegakkan pilar-pilar Islam.

Dengan adanya konsep-konsep jahiliyah berbalut life style ini penduduk muslim sengaja semakin dijauhkan dari Islam. Memang inilah tujuan dari kaum yang membenci islam. Mereka sengaja membungkus konsep kejahiliyahan dengan balutan “permadani” budaya nan indah. Siapapun yang akan memandangnya, mendengarnya, menciumnya dan merasakannya tidak akan tahu jika yang ada di dalam bungkusan nan indah menawan itu tertanam nilai jahiliyah yang buruk dan busuk, kecuali muslim yang benar-benar berpegang teguh pada pilar-pilar islam. Sebagai contoh, mereka – musuh-musuh Islam mengajarkan cara menuhankan “trend dan mode” dengan berbondong-bondong menuju tempat peribadatan mereka di mall-mall yang bertebaran layaknya laron di musim penghujan. Mendidik cara berpakaian dengan “jubah” kapitalisme dan hedonisme. Dengan cara-cara demikianlah yang menjadikan muslim semakin jauh dengan agamanya.

 Berhati-hatilah dengan Jahiliyah

Jahiliyah secara etimologi berarti bodoh, tak berpendidikan terbelakang secara materi dan tidak mengenal etika. Namun, definisi jahiliyah yang menjadi sasaran dakwah Nabi s untuk dihijrahkan dari fase kegelapan menuju titik terang tidak terikat langsung oleh kebodohan ataupun keterbelakangan secara materi – atau menurut istilah sekarang keterbelakangan dan kemiskinan. Bukan itu. Seolah-olah jahiliyah telah menemukan definisi dirinya. Yaitu penyakit yang menjangkiti keyakinan, menjadikan dirinya sebagai hijab yang menutupi pandangan akan hakekat kehidupan, kemanusiaan dan peribadahan.

Memang, jahiliyah dilahirkan dari kebodohan yang terus tumbuh menjadi dugaan yang memaksakan logika masuk ke dalamnya. Berkembang biak. Dan akhirnya gen kesalahpahaman tersebut diwariskan turun temurun ke anak-cucu mereka. Tetapi tidak jarang pula kejahiliyahan ini dilahirkan dari orang yang berpengetahuan, berkecukupan materi dan berkuasa.

Konsep kejahiliyahan yang dibawa melalui budaya asing telah merasuk begitu kuatnya di kehidupan sebagian muslim yang rapuh imannya. Pengaruh media massa yang tanpa beristirahat menayangkan “keunggulan” produk-produk kapitalisme dan hedonisme sedikit demi sedikit meracuni pola pikir mereka. Dan bahkan tanpa disadari konsep kejahiliyahan telah menjadi partner kehidupan yang sangat melekat dengan jiwa dan raga penduduk muslim. Tengok saja kehidupan para kader pejuang Islam saat ini, remaja muslim. Seberapa seringkah mereka mengunjungi masjid bila dibandingkan dengan tempat peribadatan kaum kapitalis, bernama mall. Seberapa seringkah mereka mengkaji Al-Qur’an dibandingkan mentadabburi novel-novel maupun komik, seberapa seringkah mereka mencontoh sunnah Rasul s yang begitu mulia akhlaknya dibandingkan ittiba’ dengan idola-idola sekelas artis Hollywood dan seberapa seringkah mereka mensyukuri nikmat Allah yang sangat mahal harganya bernama Islam dibandingkan mereka memuja “agama” lain yang bertuhan trend dan mode.

Begitulah jahiliyah menyerang kehidupan kaum muslim. Dialah ancaman terburuk bagi eksistensi populasi makhluk yang mendapat tugas untuk beribadah dan menjadi khalifah.

Muslim, Nikmat Allah yang Terindah

Jika mereka – kaum yang memusuhi Islam menyatakan kehidupan di dunia ini sebagai kesenangan sehingga mereka sangat mencintai dunia dan takut mati, bahkan mereka tidak punya tujuan  apa-apa setelah kematiannya, itu tidak seberapa dibandingkan kaum muslim yang memiliki tujuan yang jelas di kehidupan dunia dan akhirat. Pernah suatu ketika mahasiswa muslim Indonesia yang sedang melanjutkan studinya di Eropa menanyakan seorang profesor pembimbing (non muslim)  perihal tujuan hidupnya. Si profesor hanya menjawab ingin sukses di bidang yang ia tekuni. Ketika si mahasiswa menanyakan tentang tujuannya setelah mati, ia hanya menjawab, “Ya sudah. Selesai.” Maka mahasiswa itu mengomentari, “Sederhana sekali tujuan hidup Anda, berbeda dengan saya, saya mempunyai tujuan hidup setelah mati yang ingin saya capai.” Itulah muslim, memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah, sehingga menapaki jalan kehidupan dengan penuh pertimbangan. Tidak asal-asalan.

Jika berbicara tentang kegemilangan sejarah muslim, kegemilangannya terukir bukan hanya pasca risalah Muhammad s. Muslim merupakan gelar agung yang sejak semula disematkan pada para guru peradaban cahaya. Tersebut di dalamnya Nabi Ibrahim.

(#r߉Îg»y_ur ’Îû «!$# ¨,ym ¾Ínϊ$ygÅ_ 4 uqèd öNä38u;tFô_$# $tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4 s’©#ÏiB öNä3‹Î/r& zOŠÏdºtö/Î) 4 uqèd ãNä39£Jy™ tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# `ÏB ã@ö6s% ’Îûur #x‹»yd tbqä3u‹Ï9 ãAqߙ§9$# #´‰‹Îgx© ö/ä3ø‹n=tæ (#qçRqä3s?ur uä!#y‰pkà­ ’n?tã Ĩ$¨Z9$# 4 (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qßJÅÁtGôã$#ur «!$$Î/ uqèd óOä39s9öqtB ( zN÷èÏYsù 4’n<öqyJø9$# zO÷èÏRur 玍ÅÁ¨Z9$# ÇÐÑÈ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.

Inilah muslim, bahkan ketika kelak di perang akhir zaman dengan Yahudi, pepohonan dan bebatuan akan berbicara menginformasikan Yahudi yang bersembunyi di belakangnya.

“Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon. Lalu batu dan pohon berkata, “Wahai Muslim, wahai ‘Abdullah, ini ada Yahudi di belakangku, mari bunuhlah ia…”

(HR. Ahmad)

Selain itu kelak di akhirat mereka (orang-orang kafir) terus menerus  berandai-andai kiranya mereka dulu ketika di dunia berpegang pada risalah yang dibawakan Muhammad s.

$yJt/•‘ –Šuqtƒ tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 öqs9 (#qçR%x. tûüÏJÎ=ó¡ãB ÇËÈ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.

Yang Muda, yang Membawakan Perubahan

Setelah mengetahui bahwa muslim merupakan nikmat terindah dan  predikat yang harus dijaga hingga maut menjemput. Sudah menjadi tanggungan setiap muslim untuk menjaga kecintaannya terhadap Islam, menumbuhkan kebanggaan menjadi muslim sejati dan mewariskan nilai-nilai islam kepada calon kader-kader baru pejuang Islam.

Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran pemuda Islam untuk menularkan nilai-nilai keislaman kepada mad’u. Mendakwahkan Islam hingga muncul benih-benih kecintaan dan kebanggaan terhadap Islam di setiap dada seorang muslim. Karena pemudalah yang memiliki kegigihan dan semangat yang tinggi dalam menyebarkan risalah Islam. Dengan ini akan lahir muslim-muslim yang hanif, muslim yang tidak akan mudah dipengaruhi oleh budaya asing pengangkut nilai-nilai jahiliyah dan tidak pernah ragu untuk berkata, “Saksikan Aku Seorang Muslim!” (yuni)

Wallahua’lam bisshowab

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: