Tinggalkan komentar

Berpikir Sebelum Berucap


Suasana sorak sorai saling bersahut-sahutan seiring dengan unggulnya Timnas Indonesia – U-23 mendominasi permainan sepak bola melawan Malaysia. Namun, umpatan bertubi-tubi tidak kalah derasnya keluar dari supporter tim Merah Putih ketika pemain kebanggaan Indonesia melewatkan setiap kesempatan untuk menambah skor. Umpatan yang bervariasi jenis, mulai dari ungkapan kesal hingga nama-nama binatang dengan berbagai variasi bahasa daerah senantiasa “menghiasi” pagelaran pentas perlombaan tingkat Asia Tenggara, SEA Games.

Kasus di atas mungkin sering kita temui di sekitar lingkungan kita. Seakan-akan umpatan-umpatan atau kata kotor sudah mendapatkan tempat di hati penduduk muslim. Lebih parahnya lagi “penyakit” ini tidak menyerang orang dewasa saja, melainkan anak-anak dan remaja turut “menyemarakkan” ajang mengumpat dan berkata kotor ini.

Kurangnya kesadaran untuk menjaga lisan menjadi biang pertumbuhan umpatan dan kata kotor ini. Padahal Islam telah mengajarkan untuk menjaga lisan dengan berkata yang baik atau diam. Imam An-Nawawi pernah berkata, “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mashlahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mashlahatnya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua Shahih, Al-Bukhari (no. 6475) dan Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”

Kurangnya menjaga lisan dapat berakibat buruk terhadap diri sendiri maupun orang lain. Perbuatan ini menjadikan hati seseorang menjadi keras dan mengurangi sikap wara’ serta dapat mematikan hati. Selain itu, dapat menyinggung perasaan orang lain dan menimbulkan renggangnya ikatan persaudaraan.

Sebuah ungkapan mengatakan “berpikirlah sebelum berucap”. Dengan berpikir seseorang akan memilah-milah kata yang akan diucapkan dan mempertimbangkan dampak baik-buruk dari perkataannya. Seringkali berpikir inilah yang kita lewatkan ketika berbicara, sehingga perkataan yang keluar dari mulut kita tidak terkontrol. Memang dibutuhkan latihan yang keras untuk membiasakan berpikir sebelum berucap. (yuni)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: