Tinggalkan komentar

Tak Akan Terlupakan


Malam itu, tepatnya ba’da Maghrib seluruh santri dikumpulkan di masjid Al-Hikmah. Di sanalah, tepat di depan santri yang duduk takzim berdiri sesosok ustadz yang amat kami cintai, dengan penuh wibawa beliau menyampaikan pengarahan untuk menghadapi pekan raya ujian, “Bil imtihan yukramul mar’u au yuhanu, Dengan ujian seseorang akan menjadi MULIA atau HINA”. Ya, maksud beliau jika seseorang yang berhasil melewati ujian dan sukses dengan cara terhormat maka dia akan dimuliakan dengan ujiannya, tetapi sebaliknya , jika gagal menempuh ujian dia hanya akan dipandang sebelah mata. Kemudian beliau melanjutkan dengan nasehat-nasehat dan motivasi yang langsung memercikkan bara api semangat di tiap-tiap diri pembelajar yang mengikuti majlis ini. Dan tidak lupa majlis yang sarat dengan “amunisi perang” ini ditutup dengan doa bersama, bermunajat kepada Allah ta’ala agar dilancarkan dalam setiap prosesnya serta membawakan berkah bagi semua. Begitulah yang dilakukan ustadz Nurkholis setiap membuka pekan raya ujian, memberikan pengarahan, nasehat dan motivasi kepada santri sebagai bekal untuk menghadapi musim-musim ujian yang mulai memanas.

Berangkat dari majlis yang diadakan di awal ujian itulah tumbuh semangat yang mulai bersemi di jiwa santri . Dengan semangat inilah yang membuat kami tahan untuk struggle belajar. Kemana-mana selalu menenteng buku dan menyempatkan diri untuk membaca dan memahami kandungan mata pelajarannya. Maka tidak aneh jika menemukan santri yang mau mandi menenteng buku, sambil mengantri giliran mandinya ia mulai membuka bukunya di serambi kamar mandi. Atau sambil menunggu rendaman cucian ada yang menghafal sejenak meteri pelajarannya walaupun hanya lima belas menit. Dan tidak jarang pula dijumpai santri yang ingin pergi ke dapur menikmati santapan khas ibu dapur ditemani dengan sebuah buku yang setia berada di tangannya. Atmosfer pondok yang sengaja diciptakan untuk menghadapi ujian memang sangat kondusif dan mendukung untuk belajar. Semua kegiatan ekstrakulikuler diberhentikan sementara selama musim ujian berlangsung. Suasana belajar mandiri sudah mulai terlihat setelah makan siang, mereka sudah banyak dijumpai di sudut-sudut dan ruang utama masjid Al-Hikmah, terkadang mereka terlihat keluar-masuk maktabah1 untuk mencari referensi yang mendukung mata pelajarannya. Di tiap kamar juga tidak mau kalah dengan yang di masjid, mereka terlihat serius membaca buku pelajarannya. Santri yang kebetulan mempunyai jadwal mencuci juga tidak ingin ketinggalan dengan mereka yang sedang belajar. Atmosfer persaingan untuk menjadi yang terbaik inilah yang menciptakan rasa rindu bagi siapa saja yang pernah mengalaminya. Fastabiqul Khoirat Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ketika adzan Ashar berkumandang santri-santri menghentikan sejenak aktivitas mereka, melakukan rehat untuk bertemu Dzat Yang Maha Kuasa di dalam sholatnya. Setelah itu mereka segera mempersiapkan diri untuk bersih diri dan kembali belajar. Tepat jam 16.00 WIB Qismul Amni2 membunyikan lonceng besi sebagai tanda waktu belajar di masjid segera dimulai. Belajar sore yang dikelola oleh Qismut Tarbiyah wat Ta’lim3 memang menjadi suatu kewajiban bagi santri. Mereka belajar di satu tempat terpusat agar mudah pengawasannya. Disini mereka dijumpai ada yang belajar dengan cara mengelompok dan ada yang menyendiri di sudut-sudut masjid. Yang menarik disini, mereka – santri yang lebih muda tidak segan untuk menanyakan mata pelajaran yang kurang dipahami kepada santri yang lebih tinggi tingkat kelasnya. Dan mereka yang lebih tua dengan senang hati menjabarkan kandungan mata pelajaran adiknya dengan penuh perhatian. Inilah ukhuwah Islam. Persaudaraan sejati yang akan memperkuat Islam.

Tidak berhenti di situ saja, aktivitas belajar dilaksanakan lagi ketika waktu belajar malam, ya setelah sholat isya’ dan mereka sudah menyelesaikan makan malamnya. Ada-ada saja perlengkapan yang mereka bawa menuju masjid, semakin tangguh saja. Ada buku-buku tebal, kertas fotokopian mata pelajaran, botol berisikan air dan sesuatu yang menarik perhatian, BANTAL dan SELIMUT! Ya mereka berniat untuk sahirul lail4 dan menginap di masjid agar bisa bangun malam, melaksanakan shalat malam dan tentu saja belajar. Perlengkapan tidur ini memang diizinkan untuk dikeluarkan dari tasnya masing-masing setelah waktu belajar malam resmi diakhiri, yaitu pukul 22.00. Inilah sebuah pembelajaran yang sangat berharga yang kami dapatkan di pondok, bukan hanya usaha keras yang harus dikejar untuk menuai sebuah kesuksesan melainkan harus diikuti juga dengan ibadah-ibadah yang semakin mendekatkan diri kepada Dzat pemilik semua yang ada di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di sepertiga malam kami dibangunkan oleh Qismul ‘ibadah5 yang memang selalu bersedia untuk membangunkan santri yang ingin sholat malam. Setelah mengumpulkan segenap tenaga kami bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Segarnya air langsung membangunkan syaraf-syaraf tubuh yang masih “tertidur” . Selesai mengambil wudhu kami mencari tempat untuk melaksanakan sholat malam. Setelah sholat beberapa raka’at kami berkutat kembali dengan materi yang belum sempat dibaca pada malam harinya atau yang masih kurang paham. Mengulang dan mengulang materi yang akan diujiankan hingga fajar mulai menampakkan dirinya. Kami hentikan aktivitas belajar untuk melaksanakan sholat shubuh dan qira’ah qur’an.

Setelah membaca ayat-ayat suci yang menenangkan hati, ada santri yang mulai membuka-buka buku pelajarannya lagi seakan belum puas dengan apa yang sudah dipelajarinya berulang-ulang. Ada sebagian santri yang memilih bersih diri mendahului yang lain, agar tidak mendapatkan giliran antri yang panjang. Ada juga yang menyempurnakan belajarnya hingga surya menyibakkan sinarnya dan berniat untuk tidak mandi karena waktu yang sudah mendekati berlangsungnya ujian dan enggan menunggu giliran antrian mandi yang berkepanjangan. Mereka memilih mandi setelah ujian berlangsung, biasanya sebelum waktu dzuhur. Seringkali mereka beralasan, “Nanti kalau saya mandi, ilmu yang sudah saya pelajari dari kemarin luntur bersama air yang mengguyur.” Alasan ini langsung disambut dengan tawa dan senyuman dari teman yang mendengarnya.

***

Tidak terasa hampir 2 tahun telah berlalu tapi memori pembelajaran di pondok tidak akan pernah saya lupakan selamanya. Alhamdulillah, sekarang saya diberi amanah untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Dan minggu ini akan berhadapan dengan pekan raya ujian, ya Ujian Akhir Semester untuk semester 3. Tapi ada yang berbeda dengan ujian-ujian yang dulu pernah saya lewati. Tidak ada pengarahan, nasehat dan motivasi dari ustadz Nurkholis yang menyertai, atmosfer persaingan yang tidak terlalu kentara layaknya di pondok dulu dan ukhuwah dan kebersamaan yang kurang begitu terasa. Tapi sama sekali saya tidak berniat untuk putus asa, saya mencoba menghadirkan atmosfer-atmosfer yang terekam saat masih di pondok dan menghidupkan kembali suasana yang kondusif untuk melalui ujian ini. Berusaha di atas rata-rata orang lain berusaha dan menggapai kesuksesan dengan cara yang terhormat. Semoga Allah memudahkan urusan ini. Dan saya minta dukungan dan doa dari Ayah, Ibu, Asatidz wa Ustadzat, teman-teman agar diberi kelancaran dan kemudahan dalam melewati ujian ini. Sama-sama saling mendoakan ^_^

Selamat menikmati pekan raya ujian, ingat Bil imtihan yukramul mar’u au yuhanu6.
Ma’an Najah

(Yuni)

Nb : Terima kasih kepada Pondok Pesantren Darul Hikmah Kutoarjo yang telah banyak memberikan pembelajaran.

1Maktabah = perpustakaan
2Qismul Amni = Bagian keamanan
3Qismut Tarbiyah wat Ta’lim = Bagian Pendidikan dan Pengajaran
4Sahirul Lail = Terjaga di waktu malam
5Qismul ‘Ibadah = Bagian Keibadahan
6 imtihan yukramul mar’u au yuhanu =
Dengan ujian seseorang akan menjadi mulia
atau hina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: